Wedding Checklist #4 : Invitation & Souvenir

Hai hai hai~

Akhirnya aku bisa update wedding checklist lagi setelah beberapa waktu ini banyak drama yang terjadi selama persiapan pernikahan aku.

Beneran ya… Mempersiapkan nikahan itu adaaaa aja godaannya. Yang paling terasa itu godaan kesabaran. Adaaa aja yang bikin “ngelus dada” biar lebih sabar dan bisa jaga emosi. Padahal sebelumnya aku kira nggak akan terjadi apapun dan everything will going smooth. But… Yeah… Everything can happens.

Tapi alhamdulillah semua bisa dilewati dengan penuh kesabaran.

Nah, di wedding checklist yang keempat ini, aku mau share soal undangan dan suvenir yang aku pesan untuk nikahan aku.

Tapi berhubung undangannya belum disebar, aku nggak bisa update fotonya sekarang yaa… Hihihihi…

Waktu mempersiapkan undangan juga ada dramanya nih. Susah banget jadiΒ  penengah antara orangtuaku dengan pasanganku. Sebenarnya, untuk model undangan, aku dan Firman udah punya model yang kami setujui. Warnanya navy blue, dengan aksen gold atau silver. Undangannya juga kita maunya simple dan elegan. Nggak mau yang terlalu ramai atau feminim. Because, that’s not our style. Ceilah… Jadi, undangan amanlah ya nggak akan ada masalah.

Tadinya kupikir begitu.

Tapiiii….

Ternyata begitu nyampe ditempat bikin undangannya, tepatnya di toko Omega yang berada di Pasar Tebet, Firman jadi melenceng dari awal persetujuan kami. Dia pengennya undangan yang cuma hardcover selembar dengan bahan daur ulang. Sebenarnya nggak salah sih undangan model gitu. Bagus dan simpel malah. Aku juga suka. Cuma… Mama dan ayahku nggak akan setuju. Secara ya tamu undangan mereka kan kebanyakan orang-orang kantor Ayah, lalu teman-teman gaulnya Mama. So, aku bilang ke Firman, nggak mungkin pilih undangan itu. Firman ya gitu, ngotot kalo undangan gitu ya ga salah. *Keras Kepala Mode: ON.

Kami pun pilih-pilih lagi. Dan alhamdulillah di Omega ada contoh undangan yang kami mau! Model dan warnanya udah pas “kita banget”. Yipiiii… Case closed soal model. Tapi masalah belum selesai sampai situ. Di undangan kan biasanya gelar sekolah ditulis setelah nama calon pengantin, ya… Orangtuaku ngotot agar gelar sekolah kami dicantumkan, tetapi Firman juga ngotot supaya nggak usah dicantumkan. Pusing kan? Kan? Kan? Akhirnya aku berada dipihak Firman. Toh gelar nggak pentinglah… Toh orang juga tahu kalau kami ini sekolah tinggi. Lalu dicetaklah itu undangan.

Tapi pas undangannya jadi, Mama kembali ngomel soal gelar yang nggak dicantumin karena keluarga dari nenekku inginnya begitu. And the bla bla bla… Drama kedua dimulai. Akhirnya, aku cetak undangan lagi 100 pcs dengan kriteria yang dimau mamaku. Case closed.

Dan untuk souvenir… Aku pesan di Sophomore Promosi. Bukan toko yang khusus bikin suvenir pernikahan, sih… Tapi dia bisa bikin juga dan hasilnya oke. Yang punya namanya Dyan Andie. Orangnya selow dan enak diajak diskusi. Untuk suvenir aku pesan notes kecil karena menurut Firman, aku kan suka nulis, jadi kalau undangannya notes ada relevansinya dengan hobi aku itu. Hayaaahhh~~~

Aku pun ukur-ukur dengan penggaris untuk ukuran notesnya. Aku punya bayangan kalau notes suvenir aku harus ring dan tebal. Aku nggak mau tipis kayak pizza tipis seperti yang banyak dipasaran. Akhirnya aku bisa dapetin suvenir yang aku mau, dengan desain yang sesuai aku mau, harganya juga oke.

Nah drama ketiga… Suvenir selesai dibuat dengan cepat. Karena acara nikahanku di Bandung, sementara aku di Jakarta, undangannya dikirim langsung ke rumah Bandung. Tapiiii mamaku protes… Katanya “Kok undangannya kecil banget?”

Huwaaaa aku langsung panik! Secara yaa lagi jadi Bridezilla~

Aku pun ngukur lagi pake penggaris… Hayaaahhh.. 8×8 masa sih kecil banget ya? Tapi iya sih… kok cuma segede post it yang besar yaa… Haduuh harusnya ukuran 10×10 aja… Walaupun cuma beda 2cm tapi ternyata lumahyan bedanya. Hiks… Aku pun ribut dikit sama Mama. Bahas-bahas lagi lah itu undangan yang tanpa gelar sampai ini suvenir. Hiks…

Terus akhirnya weekend selanjutnya aku pulang ke Bandung dan langsung cek suvenirnya. Well~ It’s totally okay! Nggak sekecil yang Mama bilang. Ukurannya pas kok. Tebalnya juga udah sesuai bayanganku, 100 lembar. Aish~ Mama~ Mama~ Bikin panik aja. Ayahku pun bilang ukurannya cukup, kok.

And case closed.

Begitulah drama persiapan pernikahanku dalam episode undangan dan suvenir. Hihihihi…

Share dong, bagaimana dengan persiapan kalian. Apa ada drama juga?

(BTS, foto undangan dan suvenir menyusul, ya… ^,^/)

Ciaaaooo…Β  See you on next post!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s