Resensi Buku : Notasi – Morra Quatro

    Judul Buku : Notasi
    Penulis : Morra Quatro
    Tebal : 294 halaman
    Terbit : May 2013
    Penerbit : GagasMedia
    ISBN : 9789797806 (ISBN13: 9797806359

Sinopsis :

Rasanya, sudah lama sekali sejak aku dan dia melihat pelangi di langit utara Pogung.
Namun, kembali ke kota ini, seperti menyeruakkan semua ingatan tentangnya; tentang janji yang terucap seiring jemari kami bertautan.

Segera setelah semuanya berakhir, aku pasti akan menghubungimu lagi.

Itulah yang dikatakannya sebelum dia pergi.
Dan aku mendekap erat-erat kata-kata itu, menanti dalam harap.
Namun, yang datang padaku hanyalah surat-surat tanpa alamat darinya.
Kini, di tempat yang sama, aku mengurai kembali kenangan-kenangan itu….

Review :

Notasi adalah novel Morra Quatro kedua yang aku baca setelah sebelumnya baca Forgiven. Dan aku suka bagaimana Morra Quatro mengubah idenya menjadi kata-kata. Dan ide ceritanya benar-benar agak unusual. Novel ini bercerita mengenai kejadian saat reformasi Mei ’98.

Kejadian tersebut tentu menjadi salah satu kejadian yang sangat diingat dan menjadi sejarah bangsa. Novel ini dimulai saat sang tokoh utama wanita yang bernama Nalia mengunjungi kembali kampus UGM bersama cowoknya. Dan saat itulah kenangan saat ia kuliah di sana dan saat reformasi Mei 98 itu pecah. Reformasi pecah saat para mahasiswa yang kecewa dengan pemerintahan akhirnya turun ke jalan, melakukan demo besar-besaran menuntut keadilan pada rezim Soeharto. Termasuk salah satunya adalah Nino (sang tokoh pria) mahasiswa Teknik Elektro dan Nalia, mahasiswa kedokteran gigi. Nino dan Nalia, keduanya dipertemukan dan dekat karena urusan BEM yang saling berseteru memperebutkan suara pemilihan ketua BEM Universitas. Masalah muncul ketika terjadi penembakan saat ada event karya tulis di Fakultas Kedokteran. Salah satu karya mahasiswa yang diikutkan di event itu mengkritik pemerintahan zaman orba yang melindas keadilan.

Situasi mencekam, akhirnya kedua kubu yang dulu berseteru, mau tak mau menyusun kekuatan dan bersatu. Demi agar teman-teman mereka di kampus tak jadi korban. SDi antara deru kerusuhan reformasi Mei 98 itu, Nino dan Nalia justru saling jatuh cinta. Nino yang pamit untuk melakukan aksi bersama teman-temannya akhirnya tak pernah kembali, dan hanya mengirimkan beberapa helai surat yang dia kirim untuk Nalia.

Daaaaann ending dari cerita ini sangat sangat sangat… “Yaaaahhhh kenapaa??? oh kenapaaA?” begitulah saat aku membaca novel ini sampai akhir. Ceritanya yang tidak biasa, minim drama percintaan yang lebay. Menurutku cukup realistis sampai aku bingung sebenarnya mana yang fiksi dan non-fiksi. Huhuhuhu

Efek setelah baca buku ini aku jadi browsing lagi mengenai reformasi Mei 98. Pengen tahu apa yang sebenarnya terjadi ketika itu, berhubung saat kejadian umurku masih 8 tahun dan aku belum ngerti apa-apa tentang politik dan pemerintahan. Untuk cover novel ini cukup menarik, sebuah rak usang yang diisi radio (berhubungan dengan radio Jawara FM yang diceritakan milik Tehnik Elektro menjadi sarana untuk menyuarakan perlawanan pada para penguasa saat itu) dan sebuah hiasan kuda (yang juga diceritakan saat pertama kali Nalia bertemu dengan Nino).

Bintang 3,4 dari 4 untuk novel ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s